Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Pengertian Sejarah Lengkap


Dalam bahasa Indonesia sejarah babad, hikayat, riwayat, atau tambo dapat di artikan sebagai kejadian dan peristiwa yang benar-benar terjadi pada masa lampau atau asal usul (keturunan) silsilah, terutama bagi raja-raja yang memerintah. Ini adalah istilah umum yang berhubungan dengan peristiwa masa lalu serta penemuan, koleksi, organisasi, dan penyajian informasi mengenai peristiwa ini. Istilah ini mencakup kosmik, geologi, dan sejarah makhluk hidup, tetapi seringkali secara umum diartikan sebagai sejarah manusia.

Sejarah dapat di artikan sebagai cabang ilmu yang mengkaji secara sistematis keseluruhan perkembangan proses perubahan dan dinamika kehidupan masyarakat dengan segala aspek kehidupannya yang terjadi di masa lampau. Sejarah juga dapat mengacu pada bidang akademis yang menggunakan narasi untuk memeriksa dan menganalisis urutan peristiwa masa lalu, dan secara objektif menentukan pola sebab dan akibat yang menentukan mereka.
Pengertian Sejarah Menurut Bahasa (Etimologi)
Penjabaran pengertian sejarah

Kata sejarah berasal dari bahasa arab yaitu “syajaratun” yang berarti “pohon” sedangkan didalam bahasa arab sendiri, sejarah disebut tarikh. Kata “pohon” bermakna suatu percabangan geneologis dari suatu kelompok keluarga tertentu yang menyerupai profil pohon yang penuh dengan cabang beserta rantingnya pada bagian atas kemudian percabangan dari akar – akarnya dari bagian bawah.
Kata “syajaratun” kemudian berkembang di dalam bahasa melayu sebagai “syajarah” yang pada akhirnya menjadi kata “sejarah” di dalam bahasa Indonesia. Jadi, pada awalnya kata “syajarah” digunakan untuk menggambarkan silsilah / keturunan.
Kata sejarah sebenarnya lebih dekat dengan bahasa Yunani yakni historia yang berarti ilmu atau orang pandai. Sedangkan dalam bahasa Inggris disebut history yang berarti masa lalu dimana kata “history” berasal dari bahasa Yunani Kuno yakni “istoria” yang berarti belajar dengan cara bertanya dan melakukan penelitian.
Dalam istilah bahasa-bahasa Eropa, asal-muasal istilah sejarah yang dipakai dalam literatur bahasa Indonesia itu terdapat beberapa variasi, meskipun begitu, banyak yang mengakui bahwa istilah sejarah berasal-muasal, dalam bahasa Yunani historia.
Dalam bahasa Inggris dikenal dengan history, bahasa Prancis historie, bahasa Italia storia, bahasa Jerman geschichte, yang berarti yang terjadi, dan bahasa Belanda dikenal gescheiedenis.
Menilik pada makna secara kebahasaan dari berbagai bahasa di atas dapat ditegaskan bahwa pengertian sejarah menyangkut dengan waktu dan peristiwa. Oleh karena itu masalah waktu penting dalam memahami satu peristiwa, maka para sejarawan cenderung mengatasi masalah ini dengan membuat periodisasi.
Pengertian sejarah menurut para ahli
J.V. Bryce
Sejarah adalah catatan dari apa yang telah dipikirkan, dikatakan, dan diperbuat oleh manusia.
W.H. Walsh
Sejarah itu menitik beratkan pada pencatatan yang berarti dan penting saja bagi manusia. Catatan itu meliputi tindakan-tindakan dan pengalaman-pengalaman manusia pada masa lampau pada hal-hal yang penting sehingga merupakan cerita yang berarti.
Patrick Gardiner
Sejarah adalah ilmu yang mempelajari apa yang telah diperbuat oleh manusia.
Roeslan Abdulgani
Ilmu sejarah adalah salah satu cabang ilmu pengetahuan yang meneliti dan menyelidiki secara sistematis keseluruhan perkembangan masyarakat serta kemanusiaan pada masa lampau beserta kejadian-kejadian dengan maksud untuk kemudian menilai secara kritis seluruh hasil penelitiannya tersebut, untuk selanjutnya di jadikan perbendaharaan pedoman bagi penilaian dan penentuan keadaan sekarang serta arah proses masa depan.
Moh. Yamin
Sejarah adalah suatu ilmu pengetahuan yang disusun atas hasil penyelidikan beberapa peristiwa yang dapat di buktikan dengan bahan kenyataan.
Ibnu Khaldun (1332–1406)
Sejarah di definisikan sebagai catatan tentang masyarakat umum manusia atau peradaban manusia yang terjadi pada watak/sifat masyarakat itu.
R. Moh. Ali
Dalam bukunya Pengantar Ilmu Sejarah Indonesia, mempertegas pengertian sejarah sebagai berikut.
·         Jumlah perubahan-perubahan, kejadian atau peristiwa dalam kenyataan di sekitar kita.
·         Cerita tentang perubahan-perubahan, kejadian, atau peristiwa dalam kenyataan di sekitar kita.
·         Ilmu yang bertugas menyelidiki perubahan-perubahan, kejadian, dan atau peristiwa dalam kenyataan di sekitar kita.
Klasifikasi
Karena lingkup sejarah sangat besar, perlu klasifikasi yang baik untuk memudahkan penelitian.
Bila beberapa penulis seperti H.G. Wells,Will Durant, dan Ariel Durant menulis sejarah dalam lingkup umum, kebanyakan sejarawan memiliki keahlian dan spesialisasi masing-masing.
Ada banyak cara untuk memilah informasi dalam sejarah, antara lain:
  • ·         Berdasarkan kurun waktu (kronologis). Berdasarkan wilayah (geografis).
  • ·         Berdasarkan negara (nasional).
  • ·         Berdasarkan kelompok suku bangsa (etnis).
  • ·         Berdasarkan topik atau pokok bahasan (topikal).

Dalam pemilahan tersebut, harus di perhatikan bagaimana cara penulisannya seperti melihat batasan-batasan temporal dan spasial tema itu sendiri. Jika hal tersebut tidak dijelaskan, maka sejarawan mungkin akan terjebak ke dalam falsafah ilmu lain, misalnya sosiologi.
Inilah sebabnya Immanuel Kant yang disebut-sebut sebagai Bapak Sosiologi mengejek sejarah sebagai "penata batu-bata" dari fakta-fakta sosiologis.

Konsep Sejarah
Secara konseptual, sejarah pada dasarnya berkenaan dengan tiga aspek konseptual yang mendasarinya yaitu konsep tentang perubahan, konsep waktu dan kontinuitas. berikut uraian ketiga konsep tersebut.
1. Konsep Perubahan
Sejarah adalah perubahan dari suatu keadaan kepada keadaan lain. Meski demikian,hanya perubahan yang benar-benar memiliki makna penting bagi kehidupan manusia yang dapat dikategorikan sebagai peristiwa perubahan yang bernilai sejarah. Termasuk dalam kategori ini diantaranya perubahan rezim kolonial ke nasional, dari Soekarno ke Orde Baru atau dari Orde Baru ke era demokratisasi.
2. Konsep Waktu
Peristiwa sejarah bukan sesuatu yang datang tiba-tiba, bukan pula terjadi begitu saja tanpa sebab apapun. Setiap peristiwa yang terjadi di suatu waktu dapat di pastikan tidak berdiri sendiri saat peristiwa terjadi. Setiap peristiwa yang terjadi pada waktu tertentu pasti ada kaitannya dengan waktu sebelum dan sesudahnya.
Bila di runut melalui penelaahan sejarah, sangat mungkin ditemukan keterkaitan suatu peristiwa dengan situasi atau peristiwa yang terjadi sebelum dan sesudahnya. Terjadinya suatu peristiwa senantiasa di karenakan oleh suatu sebab yang ada dalam alur waktu.
Konteks hubungan sebab akibat peristiwa yang menjadi akibat dengan peristiwa lain yang menjadi sebab ada dalam dimensi waktu. Dalam konteks tertentu waktu dapat pula menjadi sebab, meski tidak pernah benar-benar menjadi akibat.
3. Konsep Kontinuitas
Kehidupan manusia berada dalam rangkaian perubahan demi perubahan yang berkesinambungan. Perubahan demi perubahan tersebut tidak akan berhenti pada suatu titik peristiwa. Dalam konteks kekinian (postmodern) bahkan diyakini bahwa perubahan telah menjadi suatu yang pasti sebagaimana ungkapan ahli masa depan (futurolog), saat ini yang pasti adalah ketidakpastian dan yang tetap adalah perubahan (the certain now is uncertain and the now is changing).
Sebagian perubahan yang terjadi tentunya ada yang bermakna sangat dalam bagi manusia, tetapi sebagian lagi sangat boleh jadi tidak demikian. Kebermaknaan tersebut ditentukan oleh berbagai faktor, seperti tingkat kedekatan, hubungan, kepentingan atau dampak suatu perubahan terhadap manusia tertentu. Perubahan-perubahan tertentu yang menjadi momentum sejarah tertentu bahkan sangat mungkin mengubah kehidupan banyak orang. Perubahan dari rezim kolonial ke nasional telah banyak mengubah nasib dan pola hidup masyarakat bekas jajahan. Perubahan dari pemerintahan demokrasi ke otoriter atau sebaliknya terbukti banyak mengubah nasib dan jalan hidup kelompok manusia disuatu daerah atau negara.
Dalam catatan sejarah, fenomena semacam ini dapat dicermati pada peristiwa kemenangan revolusi komunis di berbagai negara. Selain di warnai dengan berbagai tindak kekerasan, penyiksaan bahkan pembunuhan, masa-masa selama pemerintahan komunis menyebabkan masyarakat dituntut untuk mengubah pola hidup, pola pikir bahkan orientasi hidupnya.
Demikian halnya pada saat rezim komunis tumbang di banyak negara, pola hidup dan pola hubungan dalam masyarakat dengan sendirinya juga berubah total.
Unsur Sejarah
Definisi sejarah secara umum adalah peristiwa yang dialami oleh manusia yang sudah terjadi di masa lampau. Sejarah tentunya di bangun oleh beberapa unsur karena unsur – unsur tersebutlah yang membentuk sebuah sejarah. Tanpa ada unsur – unsur tersebut, sejarah tidaklah mungkin terbentuk. Berikut inilah unsur – unsur pembentuk sejarah.
1.Manusia
Di dalam sejarah, manusia memiliki peranan yang sangat penting karena manusia adalah sentral dari sebuah sejarah. Peranan manusia sangat menentukan peristiwa yang terjadi dalam sejarah karena sejarah pada umumnya bercerita tentang manusia bukan alam ataupun binatang.
Perbuatan, gejala, dan keadaan manusia dalam ruang dan waktu tertentu menjadi penentu dari suatu peristiwa sejarah. Seperti yang dikatakan oleh Ernst Berheim bahwasanya manusia merupakan objek sejarah.
Peristiwa yang terjadi pun bisa berlangsung cepat ataupun lama, bisa juga kompleks ataupun sederhana. Semua itu bergantung pada manusia beserta lingkungan yang ada.
2.Ruang
Sebuah sejarah tentunya terikat pada ruang atau tempat tertentu yang merujuk pada aspek geografis. Geografi itu sendiri meninjau kegiatan manusia dan peristiwa yang terjadi dalam dimensi ruang.
Dengan adanya unsur / dimensi ruang maka akan memberikan pemahaman kepada pembaca tentang peristiwa sejarah menjadi riil. Seperti yang dikemukakan oleh Teori Determinisme Geografis bahwa ada hubungan yang erat antara peristiwa dengan ruang yaitu faktor geografis sebagai satu – satunya faktor penentu jalannya peristiwa sebuah sejarah.
Dimana proses sejarah berlangsung dengan batasan berdasarkan lokasi terjadinya. Oleh karena itulah, sejarah dapat dibagi atas sejarah lokal, sejarah daerah, sejarah nasional, sejarah benua, dan sejarah dunia.
3 Waktu
Tidak hanya terikat pada ruang, sejarah juga terikat dengan waktu / period. Waktu merupakan unsur yang sangat penting dalam konsep sejarah karena sejarah membahas aktivitas manusia dalam kurun waktu tertentu.
Dimana yang dimaksud kurun waktu adalah batasan waktu yang sistematis yang terdiri batasan awal dan akhir.
Konsep waktu berbicara tentang bagaimana manusia memanfaatkan waktu dengan kesadaran diri mereka masing – masing. Manusia adalah makhluk hidup yang memiliki kesadaran terhadap waktu sehingga hanya manusialah yang memiliki sejarah.Sejarah juga di sajikan secara sistematis dimana rangkaian peristiwanya diurutkan berdasarkan waktunya.
Kita dapat mengatakan bahwa sejarah bersifat kronologis yakni terdapat periodesasi di dalamnya. Konsep waktu memiliki kesatuan dari kelangsungan waktu yang terdiri atas tiga dimensi yaitu waktu yang lalu, sekarang dan akan datang.
4 Kausalitas
Jika penyampaian sejarah bersifat deskriptif maka fakta – fakta yang perlu diungkapkan berkaitan dengan apa, siapa, kapan, dimana, dan bagaimana. Keingintahuan terhadap peristiwa sejarah sebagian besar tentunya akan terpenuhi jika diketahui data deskriptifnya.
Sebagai contoh, penggunaan pertanyaan bagaimana, akan menjawab beberapa keterangan tentang sebab-sebabnya meskipun hanya disampaikan secara implisit tidak eksplisit.

Sejarah Dari Berbagai Sudut Pandang
1. Sejarah sebagai Peristiwa
Sejarah merupakan peristiwa yang terjadi pada masa lampau. Sehingga sejarah sebagai peristiwa yaitu peristiwa yang sebenarnya telah terjadi/berlangsung pada waktu lampau. Sejarah melihat sebagaimana/ seperti apa yang seharusnya terjadi (histoir realite). Ciri utama dari Sejarah sebagai peristiwa adalah sebagai berikut.
· Abadi,
Karena peristiwa tersebut tidak berubah-ubah. Sebuah peristiwa yang sudah terjadi dan tidak akan berubah ataupun diubah. Oleh karena itulah maka peristiwa tersebut atas tetap dikenang sepanjang masa.
· Unik,
Karena peristiwa itu hanya terjadi satu kali. Peristiwa tersebut tidak dapat diulang jika ingin diulang tidak akan sama persis.
· Penting,
Karena peristiwa yang terjadi tersebut mempunyai arti bagi seseorang bahkan dapat pula menentukan kehidupan orang banyak.Tidak semua peristiwa dapat dikatakan sebagai sejarah.
Sebuah kenyataan sejarah dapat diketahui melalui bukti-bukti sejarah yang dapat menjadi saksi terhadap peristiwa yang telah terjadi. Agar sebuah peristiwa dapat di katakan sebagai sejarah maka harus memenuhi ciri-ciri berikut ini
.a. Peristiwa tersebut berhubungan dengan kehidupan manusia baik sebagai individu maupun kelompok.
b. Memperhatikan dimensi ruang dan waktu (kapan dan dimana)
c. Peristiwa tersebut dapat dikaitkan dengan peristiwa yang lain
Contoh: peristiwa ekonomi yang terjadi bisa disebabkan oleh aspek politik, sosial dan budaya.
d. Adanya hubungan sebab-akibat dari peristiwa tersebut.Adanya hubungan sebab akibat baik karena faktor dari dalam maupun dari luar peristiwa tersebut. Penyebab adalah hal yang menyebabkan peristiwa tersebut terjadi.
e. Peristiwa sejarah yang terjadi merupakan sebuah perubahan dalam kehidupan.
Hal ini disebabkan karena sejarah pada hakekatnya adalah sebuah perubahan dalam kehidupan manusia. Selain itu, sejarah mempelajari aktivitas manusia dalam konteks waktu.
Perubahan tersebut dapat meliputi berbagai aspek kehidupan seperti politik, sosial, ekonomi, dan budaya.
Sejarah dan Prasejarah
Dulu, penelitian tentang sejarah terbatas pada penelitian atas catatan tertulis atau sejarah yang diceritakan. Akan tetapi, seiring dengan peningkatan jumlah akademik profesional serta pembentukan cabang ilmu pengetahuan yang baru sekitar abad ke-19 dan 20, terdapat pula informasi sejarah baru. Arkeologi, antropologi, dan cabang-cabang ilmu sosial lainnya terus memberikan informasi yang baru, serta menawarkan teori-teori baru tentang sejarah manusia.
Banyak ahli sejarah yang bertanya: apakah cabang-cabang ilmu pengetahuan ini termasuk dalam ilmu sejarah, karena penelitian yang dilakukan tidak semata-mata atas catatan tertulis? Sebuah istilah baru, yaitu nirleka, dikemukakan. Istilah "prasejarah" digunakan untuk mengelompokkan cabang ilmu pengetahuan yang meneliti periode sebelum ditemukannya catatan sejarahtertulis.
Pada abad ke-20, pemisahan antara sejarah dan prasejarah mempersulit penelitian. Ahli sejarah waktu itu mencoba meneliti lebih dari sekadar narasi sejarah politik yang biasa mereka gunakan. Mereka mencoba meneliti menggunakan pendekatan baru, seperti pendekatan sejarah ekonomi, sosial, dan budaya. Semuanya membutuhkan bermacam-macam sumber.
Di samping itu, ahli prasejarah sepertiVere Gordon Childemenggunakan arkeologi untuk menjelaskan banyak kejadian-kejadian penting di tempat-tempat yang biasanya termasuk dalam lingkup sejarah (dan bukan prasejarah murni). Pemisahan seperti ini juga dikritik karena mengesampingkan beberapa peradaban, seperti yang ditemukan di Afrika Sub-Saharadan di Amerika sebelum kedatangan Columbus. Akhirnya, secara perlahan-lahan selama beberapa dekade belakangan ini, pemisahan antara sejarah dan prasejarah sebagian besar telah dihilangkan.Sekarang, tidak ada yang tahu pasti kapan sejarah dimulai. Secara umum sejarah diketahui sebagai ilmu yang mempelajari apa saja yang diketahui tentang masa lalu umat manusia (wala usudah hampir tidak ada pemisahan antara sejarah dan prasejarah, ada bidang ilmu pengetahuan baru yang dikenal dengan Sejarah Besar).
Kini sumber-sumber apa saja yang dapat digunakan untuk mengetahui tentang sesuatu yang terjadi pada masa lampau (misalnya: sejarah penceritaan,linguistik,genetika, dan lain-lain), diterima sebagai sumber yang sah oleh kebanyakan ahli sejarah.

Historiografi
Ilmu yang meneliti dan mengurai informasi sejarah berdasarkan sistem kepercayaan dan filsafat. Walau tentunya terdapat beberapa bias (pendapat subjektif) yang hakiki dalam semua penelitian yang bersifat historis (salah satu yang paling besar di antaranya adalah subjektivitas nasional), sejarah dapat dipelajari dari sudut pandang ideologis, misalnya: historiografi Marxisme. Ada pula satu bentuk pengandaian sejarah (spekulasi mengenai sejarah) yang dikenal dengan sebutan "sejarah virtual" atau "sejarah kontra-faktual" (yaitu: cerita sejarah yang berlawanan—atau kontra—dengan fakta yang ada).
Ada beberapa ahli sejarah yang menggunakan cara ini untuk mempelajari dan menjelajahi kemungkinan-kemungkinan yang ada apabila suatu kejadian tidak berlangsung atau malah sebaliknya berlangsung. Hal ini mirip dengan jenis cerita fiksi sejarah alternatif.
 Metode kajian sejarah
Ahli-ahli sejarah terkemuka yang membantu mengembangkan metode kajian sejarah antara lain:Leopold von Ranke, Lewis Bernstein Namier, Geoffrey Rudolf Elton,G. M. Trevelyan, danA. J. P. Taylor. Pada tahun 1960an, para ahli sejarah mulai meninggalkan narasi sejarah yang bersifat epik nasionalistik, dan memilih menggunakan narasi kronologis yang lebih realistik. Ahli sejarah dari Perancis memperkenalkan metode sejarah kuantitatif. Metode ini menggunakan sejumlah besar data dan informasi untuk menelusuri kehidupan orang-orang dalam sejarah. Ahli sejarah dari Amerika, terutama mereka yang terilhami zaman gerakan hak asasi dan sipil, berusaha untuk lebih mengikutsertakan kelompok-kelompok etnis, suku, ras, serta kelompok sosial dan ekonomi dalam kajian sejarahnya.
Dalam beberapa tahun kebelakangan ini, ilmuwan posmodernisme dengan keras mempertanyakan keabsahan dan perlu tidaknya dilakukan kajian sejarah. Menurut mereka, sejarah semata-mata hanyalah interpretasi pribadi dan subjektif atas sumber-sumber sejarah yang ada.
Dalam bukunya yang berjudul In Defense of History(Pembelaan akan Sejarah), Richard J. Evans, seorang profesor bidang sejarah modern dari Universitas Cambridgedi Inggris, membela pentingnya pengkajian sejarah untuk masyarakat.
PROSES PENELITIAN SEJARAH
2.1 Pemilihan Topik Penelitian
Suatu penelitian ilmiah tentu berawal dari pemilihan topik yang akan diteliti. Dalam bidang sejarah, topik penelitian harus memenuhi beberapa persyaratan.a) Topik itu harus menarik (interestingtopic), dalam arti menarik sebagai obyek penelitian. Dalam hal ini termasuk adanya keunikan (uniquenesstopic).
b) Substansi masalah dalam topik harusmemiliki arti penting (significant topic), baik bagi ilmu pengetahuan maupun bagi kegunaan tertentu.
c) Masalah yang tercakup dalam topik memungkinkan untuk diteliti (manageable topic). Persyaratan ini berkaitan dengan sumber, yaitu sumber-sumbernya dapat diperoleh.Meskipun topik sangat menarik dan memiliki arti penting, namun bila sumber-sumbernya, khususnya sumber utama tidak diperoleh, masalah dalam topik tidak akan dapat diteliti. Oleh karena itu calon peneliti harus memiliki wawasan luas mengenai sumber, khususnya sumber tertulis.
2.2 Studi Pendahuluan
Setelah topik penelitian ditentukan, segera lakukan studi pendahuluan. Cari sumber-sumber acuan utama, yaitu sumber-sumber yang diduga memuat data atau informasi yang relevan dengan topik penelitian. Dengan menelaah sumber-sumber acuan utama secara efektif, peneliti akan dapat memahami ruang lingkung penelitian, baik ruang lingkup masalah maupun ruang lingkup temporal (waktu) dan spasial (tempat/wilayah) obyek penelitian.Ruang lingkup penelitian itu kemudian dituangkan dalam rencana kerangka tulisan (laporan penelitian). Sementara itu, telaah pula bibliografi/daftar pustaka pada setiap sumber acuan utama yang berupa buku ilmiah. Hal itu dimaksudkan untuk mendapat tambahan informasi sumbersumber yang diduga memuat data tentang masalah yang akan diteliti. Catat identitas sumber-sumber itu menjadi bibliografi kerja.
2.3 Implementasi Penelitian
Penelitian sejarah yang pada dasarnyaadalah penelitian terhadap sumber-sumber sejarah, merupakan implementasi dari tahapan kegiatan yang tercakup dalam metode sejarah, yaitu heuristik, kritik, interpretasi, danhistoriografi. Tahapan kegiatan yang disebut terakhir sebenarnya bukan kegiatan penelitian, melainkan kegiatan penulisan sejarah (penulisan hasilpenelitian).
2.3.1 Heuristik
Heuristik adalah kegiatan mencari dan menemukan sumber yang diperlukan. Berhasil-tidaknya pencarian sumber, pada dasarnya tergantung dari wawasan peneliti mengenai sumber yang diperlukan dan keterampilan teknis penelusuran sumber. Berdasarkan bentuk penyajiannya, sumber-sumber sejarah terdiri atas arsip, dokumen, buku, majalah/jurnal, surat kabar, dan lain-lain. Berdasarkan sifatnya, sumber sejarah terdiri atas sumber primer dan sumbersekunder. Sumber primer adalah sumber yang waktu pembuatannya tidak jauh dari waktu peristiwa terjadi.Sumber sekunder adalah sumber yang waktu pembuatannya jauh dari waktu terjadinya peristiwa. Peneliti harus mengetahui benar, mana sumber primer dan mana sumber sekunder. Dalam pencarian sumber sejarah, sumber primer harus ditemukan, karena penulisan sejarah ilmiah tidak ukup hanya menggunakan sumber sekunder. Agar pencarian sumber berlangsung secara efektif, dua unsur penunjang heuristik harus diperhatikan.
a) Pencarian sumber harus berpedoman pada bibliografi kerja dan kerangka tulisan. Dengan memperhatikan permasalahan-permasalahan yang tersirat dalam kerangka tulisan (bab dan subbab), peneliti akan mengetahui sumbersumber yang belum ditemukan.
b) Dalam mencari sumber di perpustakaan, peneliti wajib memahami sistem katalog perpustakaan yang bersangkutan
.2.3.2 Kritik Sumber
Sumber untuk penulisan sejarah ilmiah bukan sembarang sumber, tetapi sumber-sumber itu terlebih dahulu harus dinilai melalui kritik ekstern dan kritik intern. Kritik ekstern menilai, apakah sumber itu benar-benar sumber yang diperlukan? Apakah sumber itu asli, turunan, atau palsu? Dengan kata lain, kritik ekstern menilaikeakuratan sumber. Kritik intern menilai kredibilitas data dalam sumber.Tujuan utama kritik sumber adalah untuk menyeleksi data, sehingga diperoleh fakta. Setiap data sebaiknyadicatat dalam lembaran lepas (sistem kartu), agar memudahkan pengklasifikasiannya berdasarkan kerangka tulisan
.2.3.3 Interpretasi
Setelah fakta untuk mengungkap dan membahas masalah yang diteliti cukup memadai, kemudian dilakukan interpretasi, yaitu penafsiran akan makna fakta dan hubungan antara satu fakta dengan fakta lain. Penafsiran atas fakta harus dilandasi oleh sikap obyektif. Kalaupun dalam haltertentu bersikap subyektif, harus subyektif rasional, jangan subyektif emosional. Rekonstruksi peristiwa sejarah harus menghasilkan sejarah yang benar atau mendekati kebenaran.
2.3.4 Historiografi
Kegiatan terakhir dari penelitian sejarah (metode sejarah) adalah merangkaikan fakta berikut maknanyasecara kronologis/diakronis dan sistematis, menjadi tulisan sejarah sebagai kisah. Kedua sifat uraian itu harus benar-benar tampak, karena kedua hal itu merupakan bagian dari ciri karya sejarah ilmiah, sekaligus ciri sejarah sebagai ilmu.Selain kedua hal tersebut, penulisan sejarah, khususnya sejarah yang bersifat ilmiah, juga harus memperhatikan kaidah-kaidah penulisan karya ilmiah umumnya.
a) Bahasa yang digunakan harus bahasa yang baik dan benar menurut kaidah bahasa yang bersangkutan. Kaya ilmiah dituntut untuk menggunakan kalimat efektif.
b) Merperhatikan konsistensi, antara lain dalam penempatan tanda baca, penggunaan istilah, dan penujukan sumber.
c) Istilah dan kata-kata tertentu harus digunakan sesuai dengan konteks permasalahannya.
d) Format penulisan harus sesuai dengan kaidah atau pedoman yang berlaku, termasuk format penulisan bibliografi/daftar pustaka/daftar sumber.Kaidah-kaidah tersebut harus benar-benar dipahami dan diterapkan, karenakualitas karya ilmiah bukan hanya terletak pada masalah yang dibahas, tetapi ditunjukkan pula oleh format penyajiannya.
Kesimpulan Penelitian
sejarah harus dilandasi atau berpedoman pada kaidah-kaidah metode sejarah. Jika tidak, penelitian itu hanya akan menghasilkan tulisan sejarah semi ilmiah atau bahkan sejarah populer. Oleh karena itu calon peneliti sejarah harus memahami kaidah-kaidah metode sejarah dan mampu mengimplementasikannya, agarpenelitian itu menghasilkan karya sejarah ilmiah.Penulisan sejarah ilmiah dituntut untukmenghasilkan eksplanasi mengenai permasalahan yang dibahas. Eksplanasiitu diperoleh melalui analisis. Untuk mempertajam analisis, dalam proses penulisan sejarah, aplikasi metode dan teori sejarah perlu ditunjang oleh teori dan/atau konsep ilmu-ilmu sosial yang relevan (sosiologi, antropologi, ekonomi, politik, dll.). Dengan kata lain, penulisansejarah yang dituntut memberikan eksplanasi mengenai masalah yang dibahas, perlu dilakukan secara interdisipliner dengan menggunakan pendekatan multidimensional (multidimensional approach). Hal itu sesuai dengan ciri-ciri dan karakteristik sejarah sebagai ilmu.

Kesimpulan
Adapun pengertian sejarah secara keseluruhan yaitu sejarah merupakan peristiwa yang sistematis yang dialami oleh manusia yang sudah terjadi dalam segala aspek kehidupan di masa lampau baik itu sesuatu yang dipikirkan, dikatakan ataupun diperbuat oleh manusia itu sendiri.

Post a Comment for "Pengertian Sejarah Lengkap"